Jokowi Dengan Prabowo Bisa Berjodoh

Mungkinkah Jokowi Dengan Prabowo Bisa Berjodoh Di Pilpres 2019?

Rjpkr88newsflash – Beberapa hari terakhir, Presiden Joko Widodo menggelar pertemuan dengan sejumlah Ketua Umum Partai. Mulai dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy, Ketua Umum Partai Nasional Demokrasi (NasDem) Surya Paloh, Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Oesman Sapta Odang dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar.

Pertemuan tersebut membahas Pilkada Serentak 2018 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. “Iya berbicara mengenai Pilpres, Pilkada nasional agar aman, tenteram, seperti apa, saya kira kurang lebih itu,” ungkap Presiden Jokowi usai menghadiri acara dzikir kebangsaan dan peresmian pembukaan Rapat Kerja Nasional I Majelis Dzikir Hubbul Wathon di Gedung Serbaguna 2, Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu (21/2).

Dari pengakuan Presiden Jokowi, pertemuan itu sama sekali tidak menyinggung ihwal sosok calon wakil presiden (Cawapres) yang bakal mendampinginya di Pilpres 2019. Waktu masih panjang untuk menentukan Cawapres.

Belum sampai ke sana (bahas Cawapres), masih panjang banget, masih panjang sekali,” tegasnya.

300x250

Namun, Ketua Umum PPP Romahurmuziy atau akrab disapa Romi, memberikan bocoran pembicaraannya dengan Presiden Jokowi. Romi beberapa kali bertemu dengan Jokowi. Salah satu yang ditanyakan Jokowi adalah sosok cawapres.

Tentu menanyakan kepada masing-masing rencana partai koalisi ini. Siapa kira-kira yang pantas mendampingi beliau sebagai wapres, ungkap Romi.

Di kesempatan sebelumnya, Romi mengaku pernah diminta pendapat oleh Presiden Jokowi jika berdampingan dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto di Pilpres 2019. Mendapat pertanyaan dari Jokowi, Romi pun menjawab kalau PPP setuju dengan ide tersebut.

Saya sudah menyampaikan kepada Pak Jokowi ketika ditanya. Beliau menanyakan, ‘Mas pandangan Mas Rommy kalau saya menggandeng Prabowo bagaimana?’ Sudah saya sampaikan tegas, PPP setuju,” kata Romi di Rakerdasus pemenangan Pilgub Jateng 2018 di Hotel Semesta, Jalan Plampitan, Kota Semarang, Jateng.

Menurutnya, ada tiga alasan jika Jokowi dan Prabowo berdampingan. Pertama, meminimalisir gesekan antar kontestan maupun antar kader, pengikut maupun simpatisan. Kedua, mengurangi kemungkinan adanya penebaran kebencian. Ketiga, adalah Pilpres 2019 akan bersifat aklamasi.

Kemungkinan Jokowi berpasangan dengan Prabowo sudah pernah dikalkulasi oleh lembaga survei. Pada pertengahan Februari 2018, Indo Barometer merilis skenario Pemilihan Presiden 2019. Dalam survei tersebut terbagi menjadi tiga skenario. Pertama, Jokowi melawan Prabowo Subianto. Kedua, Jokowi dan Prabowo bersatu. Skenario ketiga, Jokowi melawan Mr X, tanpa Prabowo.

Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qodari menuturkan, jika Jokowi bergabung dengan Prabowo dan melawan kandidat lain maka akan terlihat seperti dinamika kuda catur. Namun, jika keduanya bergabung maka perolehan suara dan kemungkinan menang sangat besar. Jokowi-Prabowo bisa meraup suara 48 persen jika lawannya adalah pasangan Budi Gunawan-Anies Baswedan.

Qodari menilai dari hasil tersebut terlihat jika Jokowi dipasangkan dengan Prabowo suara yang akan didapat meningkat pesat. Jika ini terwujud maka Pilpres selesai.

Pengamat Politik LIPI Ziti Zuhro melihat, dalam percaturan politik, apapun dimungkinkan terjadi. Termasuk menduetkan Jokowi dengan Prabowo.

Kalau kita simulasi, apapun bisa. Tapi kita harus punya pijakan. Kita harapkan yang memimpin negara ini tidak main-main, ungkap Siti saat berbincang dengan merdeka.com, semalam.

Siti Zuhro mencoba menganalisa dari berbagai latar belakang politik dan pengalaman selama ini untuk melihat prospek duet Jokowi dan Prabowo. Dilihat dari hitungan politik, kecil peluang Jokowi berjodoh dengan Prabowo dan maju bersama di Pilpres 2019. Sejarah politik keduanya menjadi salah satu perhitungan.

Pertama, Jokowi dan Prabowo pernah saling berhadapan dalam pertarungan Pilpres 2014. Kedua, Prabowo merasa sebagai orang yang punya peran dalam sejarah karir Jokowi hingga akhirnya bisa menjadi Presiden. Prabowo yang berada di belakang Jokowi saat memenangkan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Ketiga, Prabowo dinilai memiliki ambisi besar untuk menjadi Presiden.

Siti mengingatkan pada Pemilu 2009. Ketika Prabowo menerima pinangan Megawati Soekarnoputri sebagai cawapres. Dari situ Prabowo sudah memperhitungkan langkah politiknya yang berujung sebagai presiden. Belum lagi soal senioritas. Prabowo lebih senior dibanding Jokowi.

Kalau menurut saya, rumusnya tidak ketemu. Asumsinya kalau mau dipasangkan, tidak ketemu. Peluang kecil, tegasnya.

Harus diakui, Indonesia masih memandang faktor usia dan senioritas. Dalam hal ini Siti menjelaskan, idealnya memang yang lebih senior ditempatkan di nomor satu (capres). Bukan sebaliknya. Capresnya yang lebih senior dan punya kekuatan lebih besar.

Dia khawatir jika cawapres lebih tua dibanding capres, maka hubungannya akan seperti Jokowi dan JK yang belakangan ini diterpa isu ketidakharmonisan. Sebab, cawapres yang lebih tua akan lebih banyak diam dan akhirnya dinilai tidak maksimal. Padahal dia tahu bahwa ada kemungkinan wapres mengerem agar tak lebih cepat dari sang presiden.

Faktor ini juga yang jadi perhitungan kecilnya peluang Jokowi bersanding dengan Prabowo. Dia khawatir, rivalitas Jokowi dan Prabowo di Pilpres lima tahun lalu, membekas dan berdampak buruk jika nantinya keduanya memenangkan Pilpres 2019. Siti Zuhro khawatir keduanya pecah kongsi ketika memimpin republik ini.

Soal kemungkinan pecah kongsi presiden dan wakil presiden perlu diperhatikan. Mengingat sejarah kepemimpinan bangsa ini juga diwarnai pecah kongsi presiden dan wakil presiden. Tengok saja saat Bung Karno pecah kongsi dengan Bung Hatta. Gus Dur yang pecah kongsi dengan Megawati, hingga SBY yang tak berjalan bersama JK di Pilpres 2009.

Memang harus ada keleluasaan untuk Pak Jokowi memilih pasangannya. Ke depan, kalau mau memimpin kembali mestinya menghitung siapa yang cocok, pesannya.

Di sisi lain, Siti Zuhro mengakui kepiawaian seorang Prabowo Subianto. Sebagai politisi yang juga mantan tentara, Prabowo punya hitungan dan strategi dalam menghadapi kontestasi Pemilihan Presiden. Bisa saja dia menjadi king maker jika akhirnya memutuskan tidak maju lagi sebagai calon presiden.

Prabowo bakal menghitung peluangnya dan lawan politiknya di Pilpres. Jika kecenderungannya berujung kekalahan, maka Prabowo bisa saja memutuskan tidak ikut bertarung dan menjadi king maker.

Prabowo itu bertangan dingin juga. Dalam arti, yang ditanam itu tumbuh.

Rjpkr88newsflash