Fenomena Blood Moon 27 July Picu Kiamat

Rjpkr88newsflash Suatu fenomena astronomi langka bakal berlangsung pada 27 sampai 28 Juli 2018, yaitu gerhana bln. terlama selama Era ke-21, dengan waktu 1 jam 43 menit.

Waktu itu lebih panjang nyaris 40 menit dari fenomena Super Blue Blood Moon yang berlangsung pada 31 Januari 2018 kemarin.

Ketika ini, penampakan Bln. tidak bakal jadi umumnya. Rembulan bakal berwarna semerah darah atau di kenal jadi fenomena blood moon.

Fenomena langit itu berlangsung waktu Bln. pas di dalam umbra Bumi. Rona merah kecokelatan pada rembulan dikarenakan oleh hamburan rayleigh — dampak atmosfer yang sama dengan dampak yang mengakibatkan langit memerah waktu Matahari tenggelam — pada atmosfer Bumi yang hingga ke bayangan umbranya

Mars akan terlihat sangatlah besar serta cerah pada 27 Juli malam, saat rencanaet merah menuju titik paling dekat dengan Bumi dalam kurun saat 15 th. paling akhir.

Bila cuaca cerah, beberapa pengamat langit bakal melihat panorama Mars yang indah di samping bln. yang bercahaya merah.

Gerhana bln. merah darah itu bakal tampak di belahan bumi timur (eastern hemisphere) yaitu di Eropa, Afrika, Asia, Australia serta Selandia Baru.

Baca Juga : Jika Asteroid Dekati Bumi, Begini Cara Nasa Pasang Badan

Beberapa orang yang berada di Amerika Utara serta lokasi Arktik-Pasifik tidak bakal melihat fenomena langit itu.

Seperti diambil dari Indian Express, Senin (25/6/2018), di Asia, Australia, serta Indonesia panorama paling baik dari gerhana langka itu dapat disaksikan pada awal hari. Sesaat, warga di Eropa serta Afrika dapat menyaksikannya waktu malam hari, pada matahari tenggelam sampai larut malam, 27 Juli 2018.

Tetapi, untuk beberapa orang, blood moon tidak cuma fenomena langit, tetapi tandanya mengerikan perihal akhir dunia.

Seperti pada awal mulanya, ramalan kiamat berkenaan fenomena blood moon juga bermunculan

Ramalan Kiamat

Blood Moon
Seseorang pemuka agama, Paul Begley berasumsi fenomena blood moon kesempatan ini bukanlah momen umum, tetapi sinyal tanda akhir zaman. Dengan kata lainnya, momen langit ini konon yaitu panduan kalau kiamat telah dekat.

” Itu yaitu sinyal akhir zaman. Fenomena blood moon terpanjang era itu, berlangsung pas th. ke-70 Israel jadi suatu bangsa, ” kata dia, seperti diambil dari express. co. uk.

” Ini juga berlangsung pada th. yang sama ketia Yerusalem sudah dinyatakan jadi kota Tuchan yang abadi, bertepatan dengan letusan gunung berapi di Hawaii. “

Ia lalu mencocokkan ramalannya ini dengan cuplikan kitab suci Yoel 2 : 30-31. ” Matahari bakal beralih jadi gelap gulita serta bln. jadi darah saat sebelum datangnya hari Tugan yang hebat serta dahsyat ini. “

Ramalan seirama sempat juga nampak waktu fenomena sama pada 2015. Kebetulan gerhana bln. saat ini berdekatan dengan Paskah 5 April 2015.

Fenomena ini jadi sisi dari rangkaian empat gerhana bln. keseluruhan — 15 April 2014, 8 Oktober 2014, 4 April 2015, serta 28 September 2015. Yang dimaksud lunar tetrad.


728x90_3_rajabakarat


Seseorang pemuka agama, John Hage meyakini, peristiwa itu bakal merubah dunia, seperti yang diramalkan nurbuat perihal sinyal tanda ‘hari Tuchan yang dahsyat’. Yaitu, matahari jadi gelap serta bln. jadi semerah darah.

Penulis buku ‘Four Blood Moons’ itu memiliki pendapat, gerhana yang jatuh pada akhir minggu Paskah yaitu sinyal kalau ‘sesuatu yang dramatis’ bakal berlangsung. Mungkin saja bukanlah kiamat, tetapi, tentunya bakal merubah semua dunia.

Saya meyakini, kita bakal lihat suatu hal yang dramatis berlangsung di Timur Tengah, yang melibatkan Israel. Momen ini bakal merubah jalannya histori di Timur Tengah serta beresiko pada semua dunia, ” kata dia, seperti diambil dari Daily Mail.

Hagee menyebutkan, tetrad yang berdekatan dengan Paskah atau hari keagamaan lainnya bakal disusul momen besar.

Pada 1493, berlangsung pengusiran beberapa orang Yahudi di Spanyol. Tetrad ke-2 berlangsung pada th. 1949, pas sesudah negara Israel dibangun. Serta yang paling akhir, pada th. 1967. Tetrad berlangsung sepanjang Peranang Enam Hari pada Arab serta Israel.

Tetapi, Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengharapkan supaya orang-orang Indonesia tak meyakini beragam hal mistis ataupun mitos berkenaan gerhana

” Ini semua mitos, ya harusnya orang-orang tak meyakini beberapa hal seperti ini, ” tutur Thomas.