Sebelum Tahun 2018, Ada 4 Hal Yang Harus Kamu Perbaiki…

Rjpkr88newsflash – Dalam hitungan dua pekan, kita akan menyambut pergantian tahun 2018. Banyak orang mulai sibuk memikirkan resolusi tahun baru, mulai dari resolusi kesehatan, resolusi karir sampai resolusi keuangan.

Memiliki resolusi bisa memberikan kita motivasi lebih kuat agar bisa menjalankan 2018 dengan lebih terarah sesuai harapan. Namun, sebelum membuat resolusi tahunan, ada baiknya kita melangkah mundur sedikit untuk melakukan evaluasi.

Khusus untuk kehidupan finansial pribadi, akan lebih baik bila Anda menggelar evaluasi keuangan tahunan sebelum melangkah menyusun resolusi keuangan. Melalui evaluasi keuangan tahunan, Anda bisa mengetahui dengan objektif kondisi finansial sepanjang tahun ini.

Dari sana, Anda bisa melihat apa capaian yang berhasil teraih, apa yang gagal, apa penyebab kegagalan, dan lain sebagainya. Dengan demikian, Anda bisa menyusun target-target baru untuk tahun depan.

Berikut ini langkah-langkah evaluasi keuangan yang perlu Anda tempuh, dikutip HaloMoney.

1. Evaluasi neraca keuangan

Bila Anda selama ini rajin mengisi informasi di laporan keuangan pribadi, memperbarui data neraca keuangan adalah hal mudah. Anda tinggal mengisinya dengan informasi terakhir kondisi kekayaan. Namun bagaimana bila selama ini belum punya neraca keuangan? Tidak perlu khawatir.

Mulailah dengan mendaftar aset. Ada beberapa jenis aset yang perlu Anda update informasinya. Pertama, aset likuid. Antara lain, tabungan, deposito, simpanan emas logam mulia, reksadana pasar uang. Juga, uang kas di tangan.

Kedua, aset investasi. Isilah nilai terakhir aset investasi yang Anda miliki misalnya di aset berupa reksadana, saham, obligasi, sukuk, properti, dan lain-lain. Bila Anda memiliki barang koleksi yang memiliki nilai, seperti lukisan atau koleksi kain berharga, perlu juga tulis informasinya.

Ketiga, aset guna. Termasuk di sini adalah rumah dan mobil yang Anda gunakan, perhiasan yang kamu kenakan, dan sejenisnya.

Setelah kelompok aset sudah Anda isikan informasinya, jangan lupa pula memperbarui informasi jumlah kewajiban atau beban utang. Untuk kelompok kewajiban, Anda bisa membedakan menjadi dua kelompok berdasarkan jangka waktu.

Misalnya, kewajiban jangka pendek seperti utang kartu kredit, utang pembiayaan di kantor yang jangka waktu cicilannya di bawah setahun. Kelompok kedua adalah kewajiban jangka panjang seperti sisa utang kredit rumah, beban utang cicilan mobil, dan utang-utang lain yang kamu tanggung.

Dari dua kelompok informasi tersebut yaitu aset dan kewajiban, Anda bisa melihat berapa nilai kekayaan bersih. Selisih antara jumlah aset dan jumlah kewajiban itulah nilai kekayaan bersih yang Anda miliki.

Dari sini pula Anda bisa menilai, apakah angkanya defisit atau surplus? Bila defisit, berarti kondisi keuangan Anda perlu perhatian serius akibat menanggung terlalu banyak kewajiban utang.

2. Evaluasi arus kas

Bagaimana kondisi arus kas Anda sepanjang tahun 2017 ini? Evaluasi arus kas akan sangat mudah bila selama ini Anda sudah memiliki catatan arus masuk dan arus keluar pendapatan.

Dari 12 bulan selama 2017, apakah Anda masih sering menderita defisit bulanan? Atau, sering surplus tapi nilai surplus tersebut justru habis semata untuk kegiatan konsumtif?

Bila masih sering terjadi defisit, Anda bisa mengecek lebih jauh apa penyebab defisit yang kerap terjadi? Jangan-jangan, defisit terjadi akibat sering muncul pengeluaran tak terduga atau pengeluaran yang seharusnya dibiayai dengan pendapatan tahunan?

Anda juga bisa melihat pos-pos mana saja yang rentan kebocoran dan membuat pengeluaran bengkak. Dari sini Anda bisa menyusun strategi, bagaimana agar tahun depan defisit bisa dikurangi bahkan dihilangkan.

Apakah dengan menghemat pos-pos pengeluaran pribadi? Atau, memproyeksikan tambahan pendapatan dengan merintis bisnis sampingan sehingga defisit tidak lagi terjadi.

3. Evaluasi utang

Memiliki utang bukan masalah besar selama kita menjaga rasionya sesuai kemampuan finansial. Sebagai evaluasi, Anda perlu juga mengecek berapa total nilai utang yang kamu tanggung, apa saja jenis utang baru yang Anda ambil tahun ini, utang apa yang bisa Anda percepat pelunasannya, dan lain sebagainya.

Cobalah mengecek lagi, mulai dari utang kartu kredit, kredit tanpa agunan, utang KPR, kredit kepemilikan mobil, dan jenis pinjaman lain yang mungkin Anda miliki.

Yang terpenting, Anda perlu memastikan rasio utang yang Anda tanggung masih masuk dalam batas aman. Debt service ratio atau rasio kemampuan pelunasan utang bisa Anda hitung dengan membagi antara total beban cicilan utang per tahun atau per bulan dibagi dengan nilai pendapatan per tahun atau per bulan.

Untuk mendapatkan angkanya, Anda perlu menghitung lebih dulu total pendapatan selama setahun ini. Pendapatan termasuk gaji bulanan, bonus, insentif, dividen, dan lain-lain. Mengacu prinsip pengelolaan keuangan yang sehat, Anda perlu menjaga angka debt service ratio maksimal di angka 35 persen, tidak boleh melebihi angka itu.

Sebagai gambaran, setiap bulan beban cicilan yang Anda tanggung mencapai Rp 4 juta. Sedangkan jumlah pendapatan rutin bulanan adalah Rp 7 juta. Dengan demikian, debt service ratio keuangan Anda adalah Rp 4 juta/Rp 7 juta= 58 persen.

Angka itu melampaui batas 35 persen. Dengan kata lain, kemampuan pelunasan utang Anda termasuk buruk karena beban utang saja memakan 58 persen pendapatan rutin kamu.

Maka itu, menjadi penting bagi Anda untuk mengambil langkah menurunkan beban utang. Apakah itu dengan menjual aset untuk melunasi sebagian utang lebih cepat, melakukan refinancing atau menambah penghasilan.

4. Evaluasi rencana keuangan

Setiap tahun idealnya kita memiliki rencana atau tujuan keuangan. Misalnya, rencana dana pembelian rumah, rencana dana pendidikan anak, rencana dana pensiun, rencana dana renovasi rumah, dan lain sebagainya.

Di akhir tahun seperti ini, Anda bisa memanfaatkan waktu untuk mengevaluasi perkembangan rencana keuangan. Apakah realisasi pertumbuhan dana yang Anda investasikan sudah sesuai proyeksi hitungan awal?

Bila ternyata tidak sesuai proyeksi hitungan, bagaimana tindakan terbaik, apakah perlu mengalihkan ke produk lain yang proyeksi return-nya lebih menjanjikan? Atau, sebaliknya, apakah ada rencana keuangan yang berhasil selesai lebih cepat.

Misalnya, Anda menargetkan tahun 2017 berhasil mengumpulkan dana uang muka pembelian rumah senilai Rp 80 juta. Menginjak Desember ini, dana yang Anda kumpulkan sudah mencapai angka tersebut, maka sebaiknya Anda langsung mengamankannya di instrumen yang aman serta likuid seperti deposito bank.

 

Rjpkr88newsflash

Situs Agen Poker Bandar Domino QQ Online Terpercaya